Melirik Peluang Lain Seorang Hotelier di Masa Pandemi

Ditulis Oleh : Erik Febri Yusmawan, S.E.

Masa pandemic COVID-19 tentunya sangat dirasakan di semua kalangan dari kalangan atas sampai bawah, termasuk dari dunia pariwisata yang sangat terdampak. Salah satunya adalah di Industri Perhotelan. Pemberitaan di media massa terkait dengan penutupan usaha hotel di Bali dan kota-kota lainnya menjadikan pandemic COVID-19 ini menjadi bencana bagi Industri Perhotelan di Indonesia. Berbagai macam cara telah dilakukan oleh pengusaha hotel, pengusaha pariwisata, asosiasi perhotelan serta pemerintah dalam mengurangi dampak kerugian bagi industri hotel terutama di Indonesia. Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia menjadi garda terdepan para pengusaha untuk menyampaikan dan mengusulkan aspirasi mereka demi mengurangi kerugian semakin besar. Dan usulan relaksasi pun disusun dan diajukan kepada pemerintah, tetapi pemerintah tidak sepenuhnya bisa membantu, maka mau tidak mau para pengusaha hotel harus merasakan kerugian yang cukup besar dan akhirnya tidak sedikit yang gulung tikar, tetapi ada juga yang masih bertahan sampai sekarang ini dengan cara mengurangi jumlah pekerja/karyawan yang bekerja di hotel tersebut. Karyawan yang masa kontraknya bertepatan dengan masa pandemic COVID-19 ini yang menjadi sasaran untuk diselesaikan kontraknya oleh hotel, dengan alasan hotel sudah tidak bisa memberikan gaji untuk karyawan tersebut. Kemudian karyawan yang bersangkutan mau tidak mau memang harus pergi dari hotel tersebut dan mencari peluang yang lain selain bekerja di hotel. Tidak beda halnya dengan karyawan yang masih bertahan dan bekerja di hotel, gaji yang diterima adalah 50% dari gaji pokok yang biasanya dan beberapa tunjangan yang di dapat juga berkurang, sedangkan kebutuhan masih terus berjalan dan harus tercukupi apalagi yang sudah berkeluarga dan memiliki anak, mau tidak mau mereka harus mempunyai ide untuk mencari peluang lain selain di hotel. Seperti memiliki usaha sampingan ataupun banting stir, keluar dari dunia perhotelan. Saya adalah salah satunya, pengalaman ini benar-benar saya dapatkan saat pandemic COVID-19 melanda di Indonesia, dimana tingkat hunian hotel sangat mengerikan bahkan sampai dapat dikatakan tidak ada yang menginap. Peraturan pemerintah saat itu adalah melarang untuk masyarakat bepergian kemana-mana dan mengurangi mobilitas serta wajib dirumah saja. Maka dampak yang cukup besar bagi dunia pariwisata sector industry perhotelan, mengurangi mobilitas dan “Dirumah saja” tidak mampu mengatasi pandemic COVID-19 ini, semakin hari semakin bertambah banyak kasus dan mulai banyak korban jiwa yang berjatuhan. Akhirnya banyak hotel mulai banting harga dari hotel berbintang 5 sampai hotel berbintang 1, semua mengeluarkan promo diskon yang begitu banyak. Harga hotel bintang 5 menjadi harga hotel bintang 4, harga hotel bintang 4 menjadi harga hotel bintang 3 dan begitu seterusnya. Kemudian beberapa hotel juga mulai mengeluarkan promo untuk makanan dan minuman (food & beverage), dengan dilengkapi bebas biaya jasa antar ke tempat tujuan (S&K berlaku). Promo untuk makanan dan minuman ini sedikit menjadi solusi untuk pendapatan hotel, karena banyak juga peminatnya dari kalangan perkantoran sebagai santapan makan siang. Keadaan seperti ini berjalan kurang lebih 1,5 tahun lebih dari jaman yang disebut dengan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) sampai dengan PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat). 

Di tengah keadaan yang seperti ini, dengan gaji pokok yang masih 50% dan banyaknya jadwal untuk WFH (Work From Home), saya mulai melirik peluang lain selain bekerja di hotel, saya memanfaatkan bisnis online dan mencoba berjualan baju-baju batik dari pekalongan, dengan untung Rp10.000 – Rp15.000. Dengan menawarkan melalui story whatsapp maupun personal chat kepada teman-teman kolega hingga tamu-tamu hotel yang sudah kenal akrab/sudah menjadi langganan lama. Ternyata bisnis ini lumayan untuk bisa menambah pendapatan pribadi diluar saya bekerja di hotel. Dan bukan hanya saya, teman-teman yang lain pun yang punya keahlian memasak atau biasa bekerja di bagian dapur hotel (kitchen), ikut menjalankan usaha dari rumah dengan bantuan marketplace online yang ada, seperti go food, grab food dll. Menurut pengakuan dari teman-teman yang menjalankan bisnis tersebut juga cukup membantu pendapatan mereka. Bahkan ada yang mengundurkan diri dan konsen untuk bisa menjalankan usaha tersebut, karena mereka merasa pendapatannya lebih banyak dibandingkan saat bekerja di hotel pada masa pandemic COVID-19. Lalu seiring berjalannya waktu, saya kembali melirik peluang lain untuk menjadi seorang Tenaga Pengajar/ Guru khusus Perhotelan, saya ingin memberikan ilmu dan pengalaman yang sudah saya alami selama saya bekerja di Hotel. Dan kebetulan saya mendapatkan informasi bahwa SMK Yayasan Pharmasi sedang membuka lowongan untuk Guru Perhotelan, akhirnya saya mencoba melamar dan saya bersyukur diberikan rezeki untuk bisa mewujudkan keinginan saya menjadi Guru Perhotelan. Kemudian saya resign dari Dunia Perhotelan dan hijrah ke Dunia Pendidikan hingga sampai sekarang ini. 

Jadi untuk teman-teman semua, jangan patah semangat walaupun pandemic COVID-19 ini sangat menghancurkan perekonomian di semua kalangan terutama dunia pariwisata sektor industri perhotelan, tetap ada jalan lain atau peluang lain di samping itu semua, jika kita ada kemauan dan didukung dengan usaha dan berdoa dengan taat serta tekun, pasti Tuhan memberikan jalan yang terbaik untuk kita semua. 

Leave a Reply

Your email address will not be published.

19 + 3 =