Tahun Ajaran Baru? Awali dengan Prinsip Kesantunan!

Agus Edy Laksono, S.S., M.Hum.

Bagi siswa, tahun ajaran baru identik dengan semua yang serba baru. Buku baru, seragam baru, suasana baru, perilaku baru, dan teman baru. Namun, saat ini, tidak hanya hal-hal itu yang baru, metode pembelajarannya pun juga baru. Dahulu pembelajaran selalu dilakukan dengan tatap muka secara langsung, tetapi sekarang pembelajaran banyak dilaksanakan dengan tatap muka secara virtual atau bahkan hanya dengan model chat. Seperti diketahui bersama bahwa sudah kurang lebih setahun kita hidup di tengah wabah yang sedang melanda negeri ini. Komunikasi antarsiswa maupun guru dengan siswa pun sekarang ini juga jarang dilakukan secara langsung. Komunikasi sering dilakukan melalui telepon genggam/ hp yang menyediakan aplikasi-aplikasi pembelajaran. Namun, sudahkah kita memiliki sikap santun kepada guru-guru yang mengajar ketika pembelajaran tidak lagi dilakukan dengan tatap muka?

Santun dalam KBBI (1990) diartikan sebagai ‘kehalusan; baik (budi bahasa dan tingkah lakunya)’. Kesantunan sering juga disebut dengan istilah “tata krama”, ditentukan dan disepakati bersama untuk dijadikan suatu pedoman dalam kehidupan bermasyarakat. Menurut Zamzani dkk. (2010), kesantunan (politeness) memiliki tujuan untuk membuat suasana berinteraksi menjadi menyenangkan, tidak mengancam muka, dan efektif. Sebagai seorang siswa, sikap santun dapat diwujudkan dengan cara berkomunikasi yang baik kepada bapak atau ibu guru ketika bertemu secara langsung maupun melalui dunia maya. Dengan adanya sikap santun ini, tentu komunikasi antara guru dengan murid terjalin dengan menyenangkan. Ilmu dan didikan yang diberikan oleh guru pun akan cepat dan mudah dipahami jika komunikasi antara keduanya terjalin dengan baik, tidak ada pihak yang ingin menjatuhkan, membuat malu, atau pun merendahkan satu sama lain.

Menurut Leech (1993) ada empat maksim yang harus diperhatikan agar seseorang dapat dikatakan santun. Maksim-maksim tersebut adalah maksim kebijaksanaan, kedermawanan (penerimaan, kemurahan hati), penghargaan (kemurahan), kesederhanaan (kerendahan hati), permufakatan (kecocokan), dan kesimpatian. Maksim-maksim ini merupakan syarat jika seseorang ingin dikatakan atau mendapat predikat santun.

Maksim kebijaksanaan adalah selalu mengurangi keuntungan dirinya sendiri dan memaksimalkan keuntungan pihak lain dalam kegiatan bertutur (Rahardi, 2005). Maksim kebijaksanaan ini dapat dipenuhi dengan cara menghargai dan memuliakan lawan bicara kita. Tidak perlu membahas hal-hal pribadi siswa dalam grup kelas yang di dalamnya ada guru adalah adalah satu cara untuk memenuhi maksim kebijaksanaan ini. Siswa memberikan hak penuh kepada guru untuk menyampaikan informasi dalam grup atau ketika bertemu langsung, selalu mendengarkan apa yang guru nyatakan, tanpa menyela. Siswa juga dapat mengurangi berbicara yang kotor/ buruk agar tidak menyinggung perasaan guru ketika berkomunikasi. Bijaksana inilah yang menjadi syarat seseorang akan disebut memiliki sikap santun.

Maksim kedermawanan adalah membuat keuntungan bagi diri sendiri sekecil mungkin, serta membuat kerugian pada diri sendiri sebesar mungkin. Dalam hal ini kita berposisi sebagai seseorang yang dermawan atau murah hati serta menerima “direpoti” oleh orang lain. Misalnya, kita ingin menawarkan bantuan kepada orang lain dengan mengatakan bahwa pekerjaan kita tidak banyak atau sedang tidak memiliki pekerjaan yang harus diselesaikan. Sebagai seorang siswa, kita bisa juga menawarkan bantuan ketika guru sedang membutuhkan atau pun tidak membutuhkan bantuan. Ketika guru menanyakan keberadaan siswa, misalnya, lalu bertanya kepada para siswa di grup, siswa bisa memberikan bantuan semaksimal mungkin untuk memberikan penjelasan kepada guru tersebut. Penawaran bantuan inilah yang akan menjadi dasar sikap dermawan kita dalam berbahasa.

Maksim penghargaan adalah mau memberikan penghargaan untuk lawan bicara kita. Menurut Wijana (1996), maksim penghargaan dapat diwujudkan dengan kalimat ekspresif dan kalimat asertif. Nadar (2009) memberikan contoh tuturan ekspresif yakni mengucapkan selamat, mengucapkan terima kasih, memuji, dan mengungkapkan bela sungkawa. Ketika guru menyampaikan informasi, kita dapat mengucapkan terima kasih dengan bahasa-bahasa seperti (1) Terima kasih, Pak/ Bu, atas informasinya dan(2) Baik, Pak/ Bu, terima kasih. Ketika guru mendapatkan penghargaan atas prestasinya, cakap dalam menggunakan teknologi, terampil dalam berbicara, sebagai siswa tidak ada salahnya memberikan pujian kepada mereka sebagai bentuk kesantunan berbahasa. Terlebih ketika salah satu guru kita sedang berduka, dengan turut mengucapkan bela sungkawa itu sangat diutamakan dalam prinsip penghargaan ini.

Maksim kesederhanaan mengutamakan sikap rendah hati dengan cara mengurangi pujian terhadap dirinya sendiri. Jika prinsip penghargaan berpusat pada lawan tutur, prinsip kesederhanaan ini berpusat pada diri sendiri. Maksim ini memaksimalkan ketidakhormatan pada diri sendiri dan meminimalkan rasa hormat pada diri sendiri. Kalau istilah mudahnya maksim ini memegang prinsip ‘merendah’ di depan lawan tutur. Prinsip merendah ini bisa digunakan para siswa ketika sudah diberikan nilai bagus kepada guru, tetapi masih bilang belum mendapat nilai maksimal, dan masih ingin belajar banyak kepada guru. Jika dipuji oleh para guru, tidak serta merta mengeluarkan kata-kata yang angkuh dan sombong, tetapi mengeluarkan kata-kata yang menganggap bahwa dirinya masih jauh dari harapan.

Maksim permufakatan dapat diwujudkan dengan cara saling membina kecocokan atau kemufakatan dalam kegiatan bertutur. Setelah kecocokan atau kemufakatan itu tercapai, maka masing-masing dari mereka akan dapat dikatakan santun. Maksim ini menekankan bahwa setiap peserta tutur memaksimalkan kecocokan di antara mereka. Kita lebih harus setuju terhadap apa yang lawan tutur katakan daripada tidak menyetujuinya. Maksim kemufakatan ini bisa diterapkan oleh siswa ketika guru ingin mengadakan ulangan. Ketika guru telah menentukan hari dan jam ulangan, siswa-siswi seharusnya menyetujuinya dan berusaha sepakat dengan waktu tersebut. Dengan tidak menolak, siswa dapat dikatakan santun terhadap gurunya. Kalaupun menolak atau tidak menyetujui usulan guru, siswa bisa tetap menerapkan prinsip kesederhanaan, misalnya dengan mengatakan, “Maaf, Bu/ Pak kami belum belajar dan masih belum mampu menguasai materi, mohon beri waktu kepada kami satu minggu lagi untuk mempelajarinya.” Atau bisa juga dengan bahasa-bahasa lain yang dapat dikategorikan santun.

Maksim yang terakhir adalah maksim kesimpatian. Maksim ini dapat diwujudkan dengan menunjukkan sikap simpati daripada antipati terhadap lawan tutur kita. Simpati diartikan sebagai ‘rasa kasih, setuju, suka, serta ikut serta merasakan perasaan orang lain’. Para siswa harus memiliki sikap simpati terhadap guru-guru mereka. Ketika para guru mendapatkan kebahagiaan atau pun kesuksesan, para siswa seharusnya menunjukkan sikap simpati terhadap para guru dengan mengucapkan selamat. Sebaliknya ketika guru mendapatkan kesulitan atau pun musibah, para siswa seharusnya turut berduka dengan mengucapkan bela sungkawa kepada guru-guru mereka. Tidak diam, apalagi berkata-kata yang dapat menambah kesedihan para guru. Dengan memiliki sikap simpati ini, bahasa yang digunakan pun akan terasa santun.

Pandemi Covid-19 memang telah mampu mengubah kebiasaan lama menjadi kebiasaan baru. Namun, pandemi ini jangan sampai  mengubah perilaku santun kita menjadi tidak santun, angkuh, sombong, congkak, apatis, dsb. Ingat, apa pun sosok dan karakter guru kita, jika kita bersikap sopan dan santun, mereka akan sangat senang dan terhormat meskipun kadang-kadang kita kurang bisa mengikuti pelajaran yang diajarkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

16 − ten =